MEMAHAMI PESERTA DIDIK

MEMAHAMI PESERTA DIDIK

Pengantar Pelatihan Penguatan Kompetensi Profesional Kependidikan Islam Guru TK/RA dan SD/MI[1] 

Rofiqah[2]

Telah diungkapkan pada sajian sebelumnya, bahwa guru profesional dituntut untuk memiliki seperangkat pengetahuan esensial pembelajaran berkeahlian (essential knowledge for expert teaching). Sajian ini dimaksudkan sebagai pengantar pelatihan penguatan kecakapan profesional guru, khususnya untuk topik pengetahuan tentang proses belajar dan peserta didik  (learning and learners). Tiga sub-topik dibahas dalam sajian ini, yaitu: (1) perkembangan peserta didik, (2) keragaman peserta didik, dan (3) motivasi dalam belajar.

Perkembangan Peserta Didik

Kemampuan dan proses belajar berkaitan erat dengan pertumbuhan dan perkembangan, baik personal, sosial, emosional, dan lebih lebih kognitif. Menurut teori perkembangan intelektual manusia berkembang tingkat pemikirannya menjadi lebih kompleks. Setiap tahap berciri dimilikinya konsep atau struktur intelektual tertentu yang disebut skema. Suatu skema mengorganisasi dunia dalam beberapa cara. Skema itu sendiri digambarkan menyerupai program atau strategi yang digunakan individu ketika berinteraksi dengan lingkungan.

Sepanjang hidup, siswa mendapatkan pengalaman. Pengalaman ini diasimilasi ke dalam pola perilaku. Namun demikian, pola yang ada tak memadai menjelaskan pengalaman baru. Karena itu, skema baru dikembangkan dengan mengakomodasi pengalaman baru. Proses ini disebut asimilasi, yang menunjuk pada pemaduan pengalaman baru, dan akomodasi yang menujuk pada perubahan struktur intelektual (schema) agar cocok dengan pengalaman baru yang terjadi. Skema yang perkembangannya dibentuk oleh kematangan psikologis, berfungsi memediasi anak dan lingkungannya. Kemampuan intelektual anak tumbuh melalui perkembangan skema yang lebih kompleks untuk mengasimilasi lingkungan dengan akomodasi sebagai mekanisme utamanya.

Menurut Piaget, tahapan perkembangan intelektual manusia terdiri dari: (1) Tahap sensori motor ( usia 0-2 tahun), (2) Tahap pra-operasional (2-7 tahun) yang terbaik ke dalam pemikiran pra-konseptual (2-4 tahun) dan pemikiran intuitif (4-7 tahun), (3) Tahap operasional (7-16 tahun) yang terdiri dari pemikiran operasional konkrit (7- 11 tahun) dan pemikiran operasional formal (11 – 16 tahun). Sedangkan menurut Sullivan terdiri dari tahapan: (1) Pra konseptual (2-4 tahun), (2) intuitif (4-7 tahun), (3) operasional kongkrit (7-11 tahun), dan (4) operasional formal (11-16 tahun).

Implikasi praktik pengetahuan tentang perkembangan kognitif siswa mencakup: (1) pembelajaran adalah penciptaan lingkungan agar struktur kognitif siswa dapat muncul dan berubah, (2) tuntutan situasi belajar berbeda-beda untuk jenis pengetahuan fisik, sosial dan logik, dan (3) pengetahuan logik dan sosial paling baik dipelajari dari anak-anak lain. Karena itu, peran guru adalah: (1) sebagai pengorganisasi lingkungan belajar, (3) sebagai asesor pemikiran siswa, dan (3) sebagai pemrakarsa kegiatan kelompok.

Salah satu contoh penerapan teori perkembangan intelektual adalah model klinik. Tujuan model ini adalah: (1) mengembangkan prosedur cair terstruktur yang memungkinkan anak bergerak secara spontan searah penalarannya sekaligus menghasilkan informasi definitif tingkat penalaran, (2) pengujian klinik bersifat eksperimental karena pelakunya menetapkan sendiri masalah, membuat hipotesis, meangadaptasi lingkungan, dan akhirnya mengontrol setiap hipotesis dengan mengujinya terhadap reaksi-reaksi yang dia rangsang dalam percakapan.

Tugas guru, menurut teori perkembangan intelektual, adalah sebagai menyediakan lingkungan, memberikan pengalaman belajar sesuai tingkat perkembangan, dan menjadi penilai. Guru harus: (1) menciptakan situasi fisik yang memadai dan situasi sosial yang bebas, (2) memilih kegiatan belajar dengan memperhatikan tingkatan perkembangan siswa.

Ada tiga tahapan model pembelajaraan developmental. Pertama, konfrontasi dengan tugas relevan tahapan, dan menampilkan situasi teka-teki yang cocok dengan tingkat perkembangan siswa. Kedua, inkuiri, memancing tanggapan siswa dan meminta justifikasi, serta menawarkan usulan-kontra, memeriksa tanggapan siswa. Ketiga, transfer, menyajikan tugas terkait dan memeriksa penalaran siswa, dan mengajukan usulan-kontra.

Penerapan model instruksional developmental tidak hanya memungkinkan para guru memahami pengaruh langsung pembelajaran, yakni: aspek perkembangan kognitif yang telah dipilih, tetapi juga dampak ikutan (nurturent effect) berupa aspek lain perkembangan kognitif dan sosioemosional.

Menurut teori perkembangan intelektual, moral juga mengalami perkembangan dari satu tahap ke tahap berikutnya. Kohlberg mengidentifikasi tahapan perkembangan moral anak yang terdiri dari: (1) Tingkatan Pra-konvensional yang berorientasi pada penerapan hukuman dan Ketaatan, serta berorientasi relatif instrumental, (2) tingkatan konvensional yang berorientasi pada konkordansi interpersonal atau “good boy-nice girl”, dan berorientasi pada hukum dan aturan, (3) tingkatan pasca konvensional yang mencakup kontrak sosial, orientasi legalistik, dan orientasi prinsip etika umum/universal.

Keragaman Peserta Didik

Pemahaman bahwa belajar merupakan proses aktif, menggeser peran guru dari pengajar menjadi pembelajar. Kegiatan yang dilakukan guru adalah pembelajaran, yaitu: seperangkat kegiatan membantu peserta didik belajar. Agar cakap dalam menjalankan fungsinya, guru harus memahami keragaman peserta didik sebagai individu beserta implikasinya terhadap kegiatan pembelajaran. Sumber-sumber individualitas atau keragaman peserta didik meliputi: kecerdasan, status sosial ekonomi, budaya, dan jenis kelamin.

Kecerdasan memiliki tiga dimensi, yaitu: kemampuan memperoleh pengetahuan, kemampuan berpikir dan menalar abstrak, dan kemampuan memecahkan masalah baru. Implikasi terapan keragaman kecerdasan terhadap pembelajaran adalah: (1) harus menggunakan skor tes kecerdasan untuk pengambilan keputusan pendidikan secara berhati-hati, (2) harus menggunakan strategi pembelajaran yang memaksimalkan kemampuan dan minat peserta didik yang belainan, dan (3) harus melihat komposisi kelompok secara lentur dan menempatkan siswa ke kelompok lain bila menjamin kemajuan belajar.

Status sosial ekonomi, yang merupakan gabungan antara pendapatan, pekerjaan, dan tingkat pendidikan keluarga peserta didik, terbukti merupakan salah satu faktor yang berhubungan erat dengan performans peserta didik. Pengaruh status sosial ekonomi ini bekerja melalui: kebutuhan dasar dan pengalaman, keterlibatan orangtua, dan sikap-sikap serta nilai-nilai. Untuk membantu semua siswa, terlepas dari status sosial ekonominya, guru harus menciptakan lingkungan belajar yang aman dan terstruktur, menggunakan contoh yang bagus, mengaitkan bahan belajar dengan kehidupan siswa, dan menggiatkan ineraksi dalam kegiatan belajar.

Seperti status sosial ekonomi, kebudayaan yang menunjuk pada sikap-sikap, nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, dan pola perilaku yang menjadi ciri suatu kelompok sosial, mempengaruh keberhasilan dalam sekolah melalui sikap, nilai, dan cara pandang terhadap dunia. Sebagai bagian dari budaya, latar belakang etnik juga mempengaruhi keberhasilan peserta didik melalui sikap dan nilai-nilai. Implikasi praktik keragaman budaya bagi guru adalah bahwa dia harus memahami peserta didiknya dengan: (1) berusaha mempelajari kebudayaan peseta didik yang diajarnya, dan (2) berusaha menyadarkan peserta didik terhadap nilai-nilai dan keberhasilan orang-orang dari etnik dan budaya minoritas.

Motivasi dalam Belajar

Aspek teoretik pendidikan lain, yang harus dikuasai oleh seorang pendidik adalah masalah motivasi dalam belajar. Ini mencakup pemahaman teoretik tentang motivasi, serta penerapan motivasi dalam kelas. Secara umum, motivasi dibagi menjadi dua, yaitu: (1) motivasi intrinsik yang menunjuk pada dorongan yang terlibat di dalam suatu kegiatan demi kegiatan itu sendiri, (2) motivasi ekstrinsik yang menunjuk pada dorongan untuk bergiat dalam suatu kegiatan sebagai sarana untuk mencapai tujuan lain.

Tiga teori besar dalam psikologi berupaya menjelaskan motivasi manusia, yaitu: teori motivasi behavioral, teori motivasi humanistik, dan teori motivasi kognitif. Teori behavioral memusakan perhatian pada perubahan-perubahan dalam perilaku sebagai akibat pengalaman terhadap lingkungan. Teori humanistik menekankan usaha seseorang untuk memenuhi keseluruhan potensinya sebagai manusia. Teori kognitif mengkaji harapan-harapan dan keyakinan-keyakinan orang, serta usaha mereka untuk memahami bagaimana dunia berjalan.

Model peningkatan motivasi yang mensitensiskan teori dan penelitian, mengandung empat komponen dasar, yakni: (1) siswa yang mengatur dirinya: mengembangkan tanggungjawab siswa, (2) karakteristik guru: kualitas pribadi yang meningkatkan motivasi siswa, (3) variabel iklim: menciptakan suatu lingkungan yang memotivasi, dan (4) variabel pembelajaran: menembangkan minat pada kegiatan belajar. Seluruh variabel tersebut saling bergantung, sehingga satu variabel tunggal tidak dapat secara efektif diterapkan bilamana kehadiran pengaruh variabel lainnya.

Pengaturan-diri yang berangkat dari tujuan, merupakan suatu proses menerima tanggung jawab dan pengawasan atas belajarnya sendiri, yang berkembang dari waktu ke waktu. Ini mencakup tanggungjawab menetapkan dan memantau tujuan-tujuan, metakognisi, dan penggunaan sejumlah strategi belajar.

Ada beberapa karakteristik pribadi guru yang dapat meningkatkan motivasi siswa, yaitu: personal teaching efficacy, pemodelan, kepedulian, serta pemilikan harapan yang tinggi. Guru-guru yang memiliki personal teaching efficacy tinggi, terlepas dari latar belakang pengetahuan dan faktor-faktor lain siswa, tetap yakin bahwa mereka mampu membantu siswa belajar.

Dari aspek variabel suasana, suatu lingkungan yang memotivasi adalah suatu tempat yang aman, menentramkan, dan teratur yang terfokus pada belajar. Selain itu, para siswa juga berhasil dalam tugas yang mereka pandang sebagai tantangan. Ketika mereka menghadapi tantangan, mereka mendapati bukti bahwa kecakapan mereka sedang meningkat dan merasakan rasa kontrol yang meningkat, kedua faktor ini dapat meningkatkan motivasi intrinsik.

Dari variabel pembelajaran, guru harus berupaya meningkatkan motivasi dengan memulai pelajaran melalui sejumlah contoh, kegiatan atau pertanyaan yang menarik perhatian siswa dan memberikan kerangka kerja untuk informasi-informasi selanjutnya. Perhatian dan minat terpelihara apabila guru mampu membuat isi pelajaran relevan secara pribadi bagi siswa, dan menjaga merea agar memiliki keterlibatan tinggi dalam kegiatan belajar. Balikan tentang kemajuan belajar sangat penting baik bagi belajar itu sendiri maupun bagi motivasi siswa. Ketika balikan menunjukkan bahwa kecakapan mereka sedang meningkat, self-efficacy dan self-determination, maka keduanya memperbaiki, dan meningkatkan motivasi intrinsik siswa.

Guru juga harus harus memanfaatkan teknologi pembelajaran, karena dapat meninggikan motivasi siswa dengan meningkatkan self-efficacy dan self esteem, memperbaiki tingkat kehadiran siswa, meningkatkan sikap lebih positif terhadap sekolah dan lebih menikmati kegiatan di luar kelas, serta meningkatkan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar. Selain itu, guru juga harus memperhatikan kelompok minoritas dan berupaya melibatkan mereka dalam kegiatan kelas.

 

 


[1] Makalah pendamping tatap-muka disajikan pada Pelatihan Penguatan Kompetensi Profesional Kependidikan Islam Guru TK/RA dan SD/MI Wilayah Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, 25 April 2009, Proyek P2KP 2009.

 [2]  Rofiqah adalah Magister Bimbingan dan Konseling, Praktisi Konseling Sekolah Menengah Kejuruan, membina matakuliah Psikologi dan Konseling pada Jurusan Pendidikan Agama Islam, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Raden Rahmat Kepanjen Malang.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: