ROFIQAH, KLINIK PEMBELAJARAN SEKOLAH

KLINIK PEMBELAJARAN SEKOLAH:

Bengkel Perbaikan Proses dan Hasil Belajar Siswa[1]

Rofiqah[2] 

 

Sajian ini mengandaikan adanya kehendak bersama di kalangan semua tenaga kependidikan di sekolah atau madrasah untuk senantiasa bekerja sama guna membantu kelancaran proses dan ketuntasan hasil belajar semua peserta didik. Hanya bila kehendak bersama itu ada dan cukup kuat, maka menjadi terbuka luas peluang bagi tenaga kependidikan untuk menyepakati dicangkokkannya sebuah sub-sistem pendidikan baru di setiap sekolah. Sub-sistem baru yang dimaksudkan adalah Klinik Pembelajaran Sekolah.

Klinik Pembelajaran Sekolah merupakan wadah bagi semua tenaga kependidikan untuk melakukan serangkaian upaya untuk mengenali dan memecahkan masalah kesulitan belajar yang dihadapi oleh para siswa. Sebagai wadah para pendidik profesional, maka klinik pembelajaran harus dirancang sebagai ruang bersama untuk mengenali, merenungi, memcari solusi, merancang implementasi, dan akhirnya melakukan evaluasi atas kesulitan berlajar para siswa.

Bila anggapan dasar tersebut dipenuhi, maka persoalan yang dihadapi adalah bagaimana proses klinik pembelajaran dilaksanakan. Untuk kepentingan ini, secara ringkas berikut disajikan beberapa aspek pokok kerja klinik pembelajaran. Masing-masing adalah diagnosis kesulitan belajar siswa, tipologi siswa berkesulitan belajar, dan layanan bimbingan belajar.

Diagnosis Kesulitan Belajar Siswa

Diagnosis merupakan upaya menemukan faktor-faktor penyebab masalah kesulitan belajar siswa. Dalam konteks pembelajaran, penyebab kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi masukan, proses, maupun keluaran belajar siswa. Lazimnya, kita setuju dengan penggolongan faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah penyebab yang besumber dari dalam diri siswa itu sendiri. Ini meliputi antara lain kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi kejiwaan siswa. Faktor eksternal adalah penyebab yang berada di luar diri atau di luar kendali siswa, seperti lingkungan rumah, lingkungan sekolah, faktor guru, dan lingkungan sosial secara umum.

Dalam proses diagnosis, juga disertakan kegiatan prognosis, yaitu: memperkirakan apakah masalah yang dialami siswa masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya. Ini dilakukan dengan cara memadukan dan menafsirkan berbadai data dan informasi. Proses pengambilan keputusan prognosis seyogyanya dilaksanakan melalui konferensi kasus. Tentu saja, konferensi kasus ini menyertakan berbagai pihak yang memiliki kompetensi untuk diajak bekerja sama dalam menangani kasus yang dihadapi.

Tes dignostik kesulitan belajar dilakukan melalui pengujian dan kajian bersama terhadap gejala dan fakta untuk menemukan ciri-ciri pokok permasalahan atau kesalahan siswa. Tes dignostik kesulitan belajar tidak hanya menyangkut soal aspek belajar secara sempit, seperti penguasaan materi pelajaran semata, melainkan melibatkan seluruh aspek kepribadian terkait perilaku siswa. Tujuan tes diagnostik untuk menemukan sumber kesulitan belajar dan merumuskan rencana tindakan perbaikan.

Memang ada kendala bagi wilayah pedesaan, karena selain kurang tersedia tenaga ahli, lembaga dan perangkat yang diperlukan untuk melakukan pengujian juga sangat kurang. Karena itu, para guru bisa mengenali kesulitan belajar secara sederhana sebagai berikut:

  1. Siswa menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
  2. Siswa mencapai hasil yang tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
  3. Siswa lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
  4. Siswa menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
  5. Siswa menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
  6. Siswa menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.

Tipologi Siswa dengan Kesulitan Belajar

Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.

Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan di mana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, tidak ada persoalan dengan potensi dasarnya, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya.

Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya.

Under Achiever adalah siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Siswa yang telah diuji kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.

Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lamban dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.

Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar adalah gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.

Bila diamati, ada sejumlah siswa yang mendapat kesulitan dalam memperoleh hasil belajar secara tuntas. Ini bisa digolongkan menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah sejumlah siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan, akan tetapi sudah hampir mencapainya. Siswa tersebut mendapat kesulitan dalam menetapkan penguasaan bagian-bagian yang sulit dari seluruh bahan yang harus dipelajari.

Kelompok yang lain, adalah sekelompok siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan yang diharapkan karena ada konsep dasar yang belum dikuasai. Bisa pula ketuntasan belajar tak bisa dicapai karena proses belajar yang sudah ditempuh tidak sesuai dengan karakteristik murid yang bersangkutan.

Jenis dan tingkat kesulitan yang dialami oleh siswa tidak sama karena secara konseptual berbeda dalam memahami bahan yang dipelajari secara menyeluruh. Perbedaan tingkat kesulitan ini bisa disebabkan tingkat pengusaan bahan sangat rendah, konsep dasar tidak dikuasai, bahkan tidak hanya bagian yang sulit tidak dipahami, mungkin juga bagian yang sedang dan mudah tidak dapat dukuasai dengan baik.

Siswa dinyatakan gagal dalam belajar apabila tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference).

Siswa juga dinyatakan gagal dalam belajar apabila tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever.

Selain itu, siswa juga dinyatakan gagal apabila tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan materi yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater)

Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Terdapat empat ukuran dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa : (1) tujuan pendidikan; (2) kedudukan dalam kelompok; (3) tingkat pencapaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi; dan (4) kepribadian.

Layanan Bimbingan Belajar

Bimbingan belajar merupakan upaya guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajarnya. Secara umum, prosedur bimbingan belajar dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut

Pertama, identifikasi kasus. Identifikasi kasus merupakan upaya untuk menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan bimbingan belajar. Beberapa pendekatan dapat dilakukan untuk mendeteksi siswa yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan belajar, yakni :

Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua siswa secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar membutuhkan layanan bimbingan.

Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dengan siswa. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.

Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan siswa yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya.

Analizing students’ learning, melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi siswa.

Doing sociometric analysis, melakukan analisis sosiometris yang dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial

Kedua, identifikasi masalah. Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi siswa. Permasalahan siswa dapat berkenaan dengan aspek: (a) substansial – material; (b) struktural – fungsional; (c) behavioral; dan atau (d) personality. Belakangan ini sebenarnya telah dikembangkan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi siswa, seputar aspek : (a) jasmani dan kesehatan; (b) diri pribadi; (c) hubungan sosial; (d) ekonomi dan keuangan; (e) karier dan pekerjaan; (f) pendidikan dan pelajaran; (g) agama, nilai dan moral; (h) hubungan muda-mudi; (i) keadaan dan hubungan keluarga; dan (j) waktu senggang.

Langkah ketiga menetapkan jenis penanganan, misalnya bisa memilih apakah dengan perbaikan (remedial) dengan alih tangan kasus (referral). Bila jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing, pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten.

Langkah keempat adalah penilaian dan tindak lanjut. Cara mana pun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut, untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi siswa.

Ada beberapa kriteria keberhasilan dan efektivitas layanan klinik pembelajaran, yaitu apabila:

  1. Siswa telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi.
  2. Siswa telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.
  3. Siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).
  4. Siswa telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release).
  5. Siswa telah menurun penentangan terhadap lingkungannya (social conform)
  6. Siswa menunjukkan kemampuan mempertimbangkan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional (reasonableness).
  7. Siswa menunjukkan kemampuan melakukan usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya (adjustability).

Membidani Klinik Pembelajaran Sekolah

Hingga kini, memang belum berkembang sub-sistem klinik pembelajaran sekolah sebagai bengkel perbaikan proses dan hasil belajar siswa. Namun demikian, menurut hemat saya, gagasan ini semestinya bisa diwujudkan tidak hanya bagi para guru seperti dalam forum ini, melainkan bisa diwujudkan pada setiap sekolah dan madrasah.

Prakarsa demikian semestinya pula mendapatkan dukungan baik dari kalangan pejabat dinas pendidikan maupun dari praktisi konseling sekolah dan para spesialis bidang studi. Karena itu, mari kita lupakan sejenak keluhan dan perdebatan tentang anggaran pendidikan dengan kembali memusatkan perhatian pada fungsi profesional kependidikan. Sekian.


Sumber Bacaan

 

Abin Syamsuddin, (2003), Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosda Karya

Prayitno dan Erman Anti, (1995), Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta: P2LPTK Depdikbud

Prayitno (2003), Panduan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah

Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah,(1995), Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV, Jakarta: IPBI

Winkel, W.S. (1991), Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Jakarta: Gramedia

Syarif Hidayat, (2004) Tes Diagnostik Atasi Siswa Sulit Belajar, Suplemen Teropong, Www.pikiran –rakyat.com

 

 


[1]   Makalah disajikan pada Seminar dan Klinik Pembelajaran yang diprakasai oleh Forum Mahasiswa Peserta Program Pengabdian kepada Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Raden Rahmat Malang, 25 Februari 2009.

 

[2]   Magister Bimbingan dan Konseling, Praktisi Konseling Sekolah Menengah Kejuruan dan Pembina Matakuliah Bimbingan dan Konseling pada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Raden Rahmat, Kepanjen-Malang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: